1. Latar Belakang Masalah

“Sejak beroperasi pada 2000, perusahaan tambang tembaga/emas PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, telah berhasil melaksanakan banyak program tanggungjawab sosial. Program-program ini bertumpu pada empat pilar utama: pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan infrastruktur masyarakat. Program pengembangan masyarakat PT NNT telah mendapat pengakuan dari pemerintah dalam bentuk beberapa penghargaan. Penghargaan PADMA Perunggu merupakan penghargaan akhir tahun 2008 bagi PT NNT atas keberhasilan program pengembangan padi pola SRI di lingkar tambang.”

Cerita di atas merupakan sebuah gambaran fenomena baru dimana perusahaan sudah mulai menyadari tanggungjawab sosialnya dengan mengambil bagian dalam pembangunan untuk masyarakat sekitar perusahaannya pada khususnya dan masyarakat luas pada umumnya. Daerah yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah kebanyakan masyarakatnya tidak terlalu maju, atau bahkan terbelakang dan hidup terkungkung di bawah garis kemiskinan. Selain itu, pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran mengakibatkan menurunnya persediaan sumber daya alam, bahkan seringkali merusak sumber daya alam yang telah ada. Akibatnya biasanya dirasakan oleh masyarakat sekitar baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dari situlah muncul kesadaran perusahaan untuk turut berkontribusi dalam membangun masyarakat dan juga untuk menjaga lingkungan. Sehubungan dengan hal itu, dikenal sebuah konsep tanggungjawab sosial perusahaan atau dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR).

2. Rumusan Masalah

Indonesia memberikan peluang tak terbatas pada perusahaan-perusahaan besar untuk melakukan eksploitasi sumber daya alamnya secara besar-besaran selama lebih dari tiga dekade. Di satu sisi, hal itu tentu saja memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Namun, hal itu tidak serta-merta berdampak pada masyarakat, khususnya masyarakat setempat dimana perusahaan itu didirikan.

Degradasi lingkungan yang semakin parah menjadi sebuah isu yang hangat dan berdampak sangat buruk. Ekonomi tumbuh secara modern, namun hal inilah yang membuat ekonomi masyarakat menjadi mandeg. Basis teknologi yang tinggi menuntut perusahaan-perusahaan besar untuk menggunakan tenaga terampil dari luar, sehingga tenaga kerja lokal menjadi tidak berguna lagi.

Hal inilah yang membuat hubungan perusahaan dan masyarakat setempat merenggang, bahkan menjadi tegang. Situasi ini diperparah oleh cara berpikir dan perilaku perusahaan yang bersifat profit oriented. Namun, seiring perkembangan politik di Indonesia, tepatnya dengan berkembangnya reformasi di Indonesia maka pola hubungan masyarakat dengan perusahaan mulai berubah. Masyarakat menjadi lebih well informed sehingga mereka lebih berani mengungkapkan aspirasi mereka secara lebih terbuka. Hal ini kemudian membuat hubungan antara masyarakat dan perusahaan kembali menjadi harmonis. Program tanggungjawab sosial perusahaan menjadi salah satu solusi yang dapat menjawab tuntutan dari masyarakat. Oleh karena itu, kami mencoba membahas program tanggungjawab sosial perusahaan atau yang lebih dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility.

Berdasarkan hal yang kami ungkapkan di atas, maka dapat disimpulkan rumusan masalahnya sebagai berikut :

2.1. Bagaimana kontribusi program tanggungjawab sosial perusahaan dalam upaya menyejahterakan masyarakat?

2.2. Bagaimana upaya-upaya yang dilakukan perusahaan dalam menerapkan program tanggungjawab sosial?


3. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan ilmiah yang kami lakukan ini yakni:

3.1. Menjelaskan keterkaitan konsep program tanggungjawab sosial perusahaan dengan kesejahteraan masyarakat.

3.2. Menjelaskan kontribusi program tanggungjawab sosial perusahaan dalam upaya menyejahterakan masyarakat.


4. Manfaat Penulisan

Karya tulis ini tentu saja bermanfaat terutama bagi masyarakat umum, bagi tim penulis, dan juga bagi ilmu pengetahuan.

4.1. Manfaat Akademik

Kami berharap melalui karya tulis ini, kami bisa menambah khazanah ilmu pengetahuan, khususnya di bidang Ilmu Kesejahteraan Sosial.

4.2.Manfaat Praktis

Bagi masyarakat umum, karya tulis ini dapat memberikan informasi yang memadai tentang program tanggungjawab sosial perusahaan. Melalui karya tulis ini, kami mencoba menjawab bagaimana kontribusi program tanggungjawab sosial perusahaan terhadap upaya pembangunan sosial yang sedang dijalankan, khususnya di Indonesia.Dan mungkin saja lewat karya tulis ini, perusahaan-perusahaan di Indonesia, baik asing maupun lokal menjadi lebih tergerak untuk berkecimpung dalam pembangunan sosial, sehingga pembangunan suprastruktur di Indonesia pun menjadi lebih cepat terealisasikan.

4.3. Manfaat bagi Tim Penulis

Manfaat yang dapat diperoleh bagi tim penulis sendiri yaitu dapat bertambahnya khazanah ilmu pengetahuan dan wawasan mengenai CSR itu sendiri. Dan yang terpenting, penulisan karya tulis ini merupakan suatu syarat mutlak untuk mengikuti Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa Kessos (KKTMK).

5. Metode Penulisan


Metode penulisan yang digunakan tim penulis dalam upaya menjawab masalah-masalah yang telah dituliskan di atas adalah melakukan survei ke perpustakaan dan toko buku yang ada. Dari studi kepustakaan tersebut, tim penulis mendapatkan informasi dari buku-buku yang dipinjam. Selain itu, penulis juga melakukan konsultasi dengan pembimbing agar hasil yang didapat dalam penulisan karya tulis ini dapat memuaskan semua pihak.

6. Landasan Teori

Hal yang menjadi landasan teori kami dalam membuat karya tulis ini yakni:

Corporate Social Responsibility (CSR): Upaya manajemen yang dijalankan entitas bisnis untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan berdasarkan pada keseimbangan ekonomi, sosial dan lingkungan, dengan meminimumkan dampak negatif dan memaksimumkan dampak positif tiap pilar (csrindonesia.com/glos.php).

BAB II

PEMBAHASAN

A. Kontribusi program tanggung jawab sosial dalam upaya menyejahterakan masyarakat

Permasalahan kemiskinan bukanlah masalah baru yang kita hadapi. Peran para pelaku bisnis diharapkan dapat menjalin kemitraan dengan Usaha Kecil Menengah, sebagai salah bentuk program tanggung jawab sosial dalam pembangunan sosial untuk mengentaskan masalah kemiskinana tersebut.

Kunci terpenting[1] untuk melaksanakan program tanggung jawab sosial adalah konsistensi dari setiap program social marketing yaitu program yang sifatnya jangka panjang, program tanggung jawab sosial harus menjadi salah satu policy of corporate management. Ini berarti memerlukan komitmen seluruh karyawan baik di seluruh level pemerintah maupun di perusahaan. Jika pemerintah menginginkan partsisipasi aktif dari seluruh masyarakat untuk bisa mewujudkan bebas kemiskinan maka komitmen tersebut harus direalisasikan dengan strategi-strategi yang bisa mengajak masyarakat sebagai pelaku aktif dengan bentuk kerjasama tree-parted. Terakhir, penerapan program tanggung jawab sosial haruslah terintegrasi, sistematis dan efektif.

Pada dasarnya kegiatan program tanggung jawab sosial[2] sangat beragam bergantung pada proses interaksi sosial, bersifat sukarela, didasarkan pada dorongan moral dan etika, biasanya melebihi dari hanya sekedar kewajiban memenuhi peraturan perundag-undangan. Oleh karena itu, di dalam praktek, penerapan program tanggung jawab sosial selalu disesuaikan dengan kemampuan masing-masing perusahaan dan kebutuhan masyarakat. Idealnya terlebih dahulu dirumuskan bersama antara tiga pilar yakni dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat, yang kemudian dilaksanakan sediri oleh masing-masing perusahaan. Dengan demikian adalah tidak mungkin untuk mengukur pelaksanaan program tanggung jawab sosial.

Jika masih banyak kalangan yang memandang program tanggung jawab sosial sebagai program yang tidak profitable maka tak urung program tanggung jawab sosial akan menjadi beban dan tuntutan semata, akan tetapi seharusnya program tanggung jawab sosial (corporate social responsibility) merupakan komitmen yang dilakukan pemerintah dan perusahaan untuk peduli dan berupaya aktif memberi solusi konkrit atas kompleksnya permasalahan sosial di tengah masyarakat kita. Fokusan program tanggung jawab sosial adalah bagaimana meningkatkan kualitas hidup masyarakat hingga akhirnya muncul kemapanan masyarakat untuk mengatasi permasalahan sosial.

Sebagai contoh kontribusi program tanggung jawab sosial terhadap upaya pembangunan sosial yaitu PT.Univeler Indonesia yang telah melakukan program program tanggung jawab sosial melalui pendampingan petani kedelai. PT Unilever[3] telah berhasil membina petani yang menggarap lebih dari 600 hektar kedelai hitam hingga mengkontribusikan sekitar 30 persen kebutuhan produksi Kecap Bango. Program semacam ini tentu saja bermanfaat bagi petani dan 7 perusahaan. Bagi petani misalnya program ini bermanfaat untuk meningkatkan kualitas produksi dan juga menjamin kelancaran distribusi, sedangkan bagi perusahaan dapat menjamin kelancaran pasokan bahan baku untuk produk-produk yang menggunakan bahan dasar kedelai. Melalui program ini pula, permasalahan petani, seperti rendahnya harga beli dan ketidakpastian pembeli, dapat terhapuskan. Diharapkan, program ini dapat meningkatkan kesejahteraan para petani.

Program pembinaan petani kedelai hitam ini[4] mulai dilaksanakan Yayasan Unilever Peduli bekerjasama dengan UGM sejak 2001. Dalam program ini, Unilever mendampingi petani untuk membudidayakan kedelai hitam guna mencapai kualitas kedelai hitam yang optimal, menyediakan akses pasar, jaminan harga, dan akses finansial, serta memberdayakan kelompok perempuan dalam proses sortasi (pada proses paska panen). Kegiatan ini juga bermanfaat bagi para ibu untuk menambah pendapatan dan mempererat komunitas perempuan di lingkungan mereka. Hingga 2007, program ini telah melibatkan 6,600 petani di 1,100 hektar lahan.

Kini yang menjadi tantangan selanjutnya adalah bagaimana semua pihak terkait dalam kesungguhan komitmen bersama-sama menerapkan program program tanggung jawab sosial[5] dalam pengabdiannya terhadap masyarakat. Uraian yang penulis utarakan diatas adaah salah satu alteratif dalam pengembangan program program tanggung jawab sosial.

Pada saatnya nanti, masyarakat luas akan semakin kritis dalam menyikapi permasalahan permasalahan petani khususnya antar kedelai import. Masyarakat akan menuntut pertanggung jawaban dari pihak yang telah melakukan hal tersebut. Pertanggungjawaban itu dapat berupa tuntutan masayarakat terhadap akses yang lebih berimbang dalam memanfaatkan sumber daya alam.

Akan tetapi, untuk hal ini pemerintah belum melakukan hal yang sama namun paling tidak pernah berusaha memperkuat sektor usaha mereka dengan mengurangi bermacam pembatasan pada aktifitas ekonomi informal dan dengan memperkenalkan cara yang mengangkat aktifitas ini. Ini termasuk pembagian kredit oleh pemerintah, pembangunan pasar, dan pengenalan pada pelatihan dan bantuan teknis. Beberapa pemerintah telah mendorong para pelaku bisnis besar untuk bekerja sama dengan pengusaha kecil sektor informal dan meningkatkan ketersediannya barang dan layanan yang mereka beli dari usaha ini.

Pengangkatan pendekatan usaha lewat kelompok berpendapatan rendah harus terfokus tidak hanya pada individu dan keluarga tetapi juga masyarakat. Sesungguhnya penulis seperti Thomas Dichter (1989) sangat kritis dalam menekankan pengembangan masyarakat dalam aktifitas yang tidak meluas pada aktifitas ekonomi namun lebih terfokus pada aspek non materi seperti meningkatkan huubungan dan identitas masyarakat juga meningkatkan kualitas kepemimpinan masyarakat.

Ini dapat dilakukan dengan mendorong para anggota masyarakat untuk membangun usaha dalam kolaborasi yang baik dengan yang lain atau dengan membangun koperasi yang dapat secara bersama menjalani aktivitas ekonomi. Walaupun ada beberapa contoh pada harmonisasi yang berhasil pada pendekatan komunitarian dan usaha, pengalaman koperasi dalam masyarakatpun telah didokumentasikan dengan baik.

Dengan contoh ini, ada kemungkinan untuk mengharmonisasikan strategi konsep tanggung jawab sosial perusahaan dengan pendekatan lain dan berusaha untuk mempromosikan implementasi dalam lingkungan yang berbeda, ini juga membutuhkan suatu kesepakatan yang sesuai.


B. Upaya-upaya yang dilakukan perusahaan dalam menerapkan Corporate Social Responsibilities

Triple Bottom LineSaat ini sudah banyak perusahaan yang menerapkan program program tanggung jawab sosial. Mulai dari perusahaan yang terpaksa menjalankan program tanggung jawab sosial-nya karena peraturan yang ada, sampai perusahaan yang benar-benar serius dalam menjalankan program tanggung jawab sosial dengan mendirikan yayasan khusus untuk program program tanggung jawab sosial mereka. Berdasarkan konsep Triple Bottom Line (John Elkington, 1997) atau tiga faktor utama operasi dalam kaitannya dengan lingkungan dan manusia (People, Profit, and Planet), program tanggung jawab sosial penting untuk diterapkan oleh perusahaan karena keuntungan perusahaan tergantung pada masyarakat dan lingkungan.

Perusahaan tidak bisa begitu saja mengabaikan peranan stakeholders (konsumen, pekerja, masyarakat, pemerintah, dan mitra bisnis) dan shareholders dengan hanya mengejar profit semata. Jika perusahaan mengabaikan keseimbangan Triple Bottom Line maka akan terjadi gangguan pada manusia dan lingkungan sekitar perusahaan yang dapat menimbulkan reaksi seperti demo masyarakat sekitar atau kerusakan lingkungan sekitar akibat aktifitas perusahaan yang mengabaikan keseimbangan tersebut. Jadi, ada atau tidaknya sebuah peraturan yang mewajibkan sebuah perusahaan yang menjalankan program tanggung jawab sosial atau tidak sebenarnya tidak akan terlalu membawa perubahan karena jika perusahaan tidak menjaga keseimbangan antara people, profit, dan planet maka cepat atau lambat pasti akan timbul reaksi dari pihak yang dirugikan kepada perusahaan tersebut.

Banyak cara bisa dilakukan perusahaan untuk menerapkan program tanggung jawab sosial dan tetap menjaga keseimbangan Triple Bottom Line. Beberapa contoh perusahaan yang telah menerapkan program program tanggung jawab sosial antara lain :

· PT Freeport Indonesia mengklaim telah menyediakan layanan medis bagi masyarakat Papua melalui klinik-klinik kesehatan dan rumah sakit modern di Banti dan Timika. Di bidang pendidikan, PT Freeport menyediakan bantuan dana pendidikan untuk pelajar Papua, dan bekerja sama dengan pihak pemerintah Mimika melakukan peremajaan gedung-gedung dan sarana sekolah. Selain itu, perusahaan ini juga melakukan program pengembangan wirausaha seperti di Komoro dan Timika.

· Melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan, Pertamina terlibat dalam aktivitas pemberdayaan ekonomi dan sosial masyarakat, terutama di bidang pendidikan, kesehatan dan lingkungan. Pada aspek pendidikan, BUMN ini menyediakan beasiswa pelajar mulai dari tingkatan sekolah dasar hingga S2, maupun program pembangunan rumah baca, bantuan peralatan atau fasilitas belajar. Sementara di bidang kesehatan Pertamina menyelanggarakan program pembinaan posyandu, peningkatan gizi anak dan ibu, pembuatan buku panduan untuk ibu hamil dan menyusui dan berbagai pelatihan guna menunjang kesehatan masyarakat. Sedangkan yang terkait dengan persoalan lingkungan, Pertamina melakukan program kali bersih dan penghijauan seperti pada DAS Ciliwung dan konservasi hutan di Sangatta.

· PT HM Sampoerna, salah satu perusahaan rokok besar di negeri ini juga menyediakan beasiswa bagi pelajar SD, SMP, SMA maupun mahasiswa. Selain kepada anak-anak pekerja PT HM Sampoerna, beasiswa tersebut juga diberikan kepada masyarakat umum. Selain itu,melalui program bimbingan anak Sampoerna, perusahaan ini terlibat sebagai sponsor kegiatan-kegiatan konservasi dan pendidikan lingkungan.

· PT Coca Cola Bottling Indonesia melalui Coca Cola Foundation melakukan serangkaian aktivitas yang terfokus pada bidang-bidang: pendidikan, lingkungan, bantuan infrastruktur masyarakat, kebudayaan, kepemudaan, kesehatan, pengembangan UKM, juga pemberian bantuan bagi korban bencana alam.

· PT Bank Central Asia, Tbk berkolaborasi dengan PT Microsoft Indonesia menyelenggarakan pelatihan IT bagi para guru SMP dan SMA negeri di Tanggamus, Lampung. Pelatihan ini sebagai pelengkap dari pemberian bantuan pendirian laboratorium komputer untuk beberapa SMP dan SMA di Gading Rejo, Tanggamus yang merupakan bagian dari kegiatan dalam program Bakti BCA.

· Nokia Mobile Phone Indonesia telah memulai program pengembangan masyarakat yang terfokus pada lingkungan dan pendidikan anak-anak perihal konservasi alam. Perusahaan ini berupaya meningkatkan kesadaran sekaligus melibatkan kaum muda dalam proyek perlindungan orangutan, salah satu fauna asli Indonesia yang dewasa ini terancam punah.

· PT Timah, dalam rangka melaksanakan tanggung jawab sosialnya menyebutkan bahwa ia telah menyelenggarakan program-program yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Perusahaan ini menyatakan bahwa banyak dari program tersebut yang terbilang sukses dalam menjawab aspirasi masyarakat diantaranya berupa pembiakan ikan air tawar, budidaya rumput laut dan pendampingan bagi produsen garmen.

· Astra Group, melalui Yayasan Dharma Bhakti Astra menyebutkan bahwa mereka telah melakukan program pemberdayaan UKM melalui peningkatan kompetensi dan kapasitas produsen. Termasuk di dalam program ini adalah pelatihan manajemen, studi banding, magang, dan bantuan teknis. Di luar itu, grup Astra juga mendirikan yayasan Toyota dan Astra yang memberikan bantuan pendidikan. Yayasan ini kemudian mengembangkan beberapa program seperti: pemberian beasiswa, dana riset, mensponsori kegiatan ilmiah universitas, penerjemahan dan donasi buku-buku teknik, program magang dan pelatihan kewirausahaan di bidang otomotif.[6]

Contoh diatas hanya merupakan sebagian kecil dari sedikit perusahaan di Indonesia yang telah menerapkan program program tanggung jawab sosial. Masih banyak perusahaan yang melihat program tanggung jawab sosial sebagai suatu program yang menghabiskan banyak biaya dan merugikan bagi mereka. Perusahaan yang telah menjalankan program tanggung jawab sosial pun ada yang menerapkan program tanggung jawab sosial tersebut karena alasan untuk mengantisipasi penolakan dari masyarakat dan lingkungan sekitar perusahaan. Masih jarang ada perusahaan yang menjadikan program tanggung jawab sosial sebagai bagian dari perencanaan strategis perusahaan. Mereka tidak melihat kenyataan di lapangan bahwa perusahaan yang menjadikan menjadikan program tanggung jawab sosial sebagai bagian dari perencanaan strategis perusahaan mempunyai corporate image yang lebih tinggi sehingga dapat berdampak pada loyalitas yang tinggi pada baik bagi masyarakat yang telah di untungkan oleh perusahaan tersebut juga bagi konsumen yang sering mengandalkan corporate image dalam mengonsumsi apa yang mereka beli.

Michael Porter, Clayton Christensen, dan Rosabeth Moss Kanter mengemukakan bahwa hanya dengan menjadikan program tanggung jawab sosial sebagai bagian dari strategi perusahaan, program-program program tanggung jawab sosial tersebut bisa “abadi”. Karena strategi perusahaan terkait erat dengan program program tanggung jawab sosial, perusahaan tidak akan menghilangkan program program tanggung jawab sosial tersebut meski dilanda krisis, kecuali ingin merubah strateginya secara mendasar. Sementara pada kasus-kasus program tanggung jawab sosial pada umumnya, begitu perusahaan dilanda krisis, program program tanggung jawab sosial akan dipotong terlebih dahulu. [7]








[1]Corporate Social Responsibility dan Penanggulangan Kemiskinan, 2008, internet: customer

relation@pkpu.or.idrelation@pkpu.or.id, diakses pada 5 Januari 2009.

[3]Memahami program tanggung jawab sosial Sebagai Wujud Investasi Perusahaan, internet: www.keepandshare.com/doc/view.php?id=764997, diakses pada 13 Januari 2009

[4] Tanggung jawab sosial Perusahaan PT. Unilever Indonesia Tbk.2008, internet :http://www.unilever.co.id/id/Images/ULI-program tanggung jawab sosial2004_Indonesia_tcm108-88405.pdf diakses pada tanggal 6 Februari 2009.

[5]Sampurna, Muhammad Endro. 2007. Memahami program tanggung jawab sosial secara Definitif dalam menjawab Krisis Energi di Indonesiai. Depok: Departemen Ilmu Hubungan Internasional FISIP UI.