Dalam kasus ini kami akan memfokuskan penganalisisan dalam hubungan Republik Indonesia (RI), Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pihak mediasi yang menjadi pihak ketiga dalam menyelesaikan konflik ini. Peran pihak ketiga sangat dibutuhkan dan berperan aktif dalam proses penyelesaian konflik anatara RI dan GAM. Pelibatan pihak ketiga dalam konflik ini terjadi karena beberapa faktor seperti sumber-sumber konflik justru lebih banyak karena faktor luar, interdependensi global yang ada mengakibatkan perlunya pihak ketiga turun campur sebagai pencegahan agar konflik tidak meluas ke negaranya, biaya konflik berupa tragedi kemanusiaan membuat pihak luar memiliki legitimasi untuk tidak tinggal diam atau melakukan intervensi, serta adanya kesepakatan dari hampir semua kajian konflik bahwa konflik yang berlarut-larut hanya dapat diselesaikan dengan melibatkan pihak luar.[1]

Menurut teori George Simmel, konflik antara RI dan GAM dapat dikatakan sebagai contoh hubungan duaan atau dyad. Pihak RI dan pihak GAM sama-sama memiliki kepentingan yang ingin mereka perjuangkan. Sedangkan untuk mencapai kepentingan salah satu pihak, pihak yang lain akan kehilangan kepentingannya tersebut. Dalam hal ini kepentingan pihak GAM adalah untuk menjadikan Aceh sebagai negara yang berdiri sendiri sedangkan pihak RI menginginkan Aceh tetap sebagai bagian dari wilayah RI.

Interaksi timbal balik RI dan GAM

Interaksi timbal balik RI dan GAM

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa konflik yang tiada habisnya antara RI dan GAM akirnya membuat munculnya kehadiran pihak ketiga sebagai pihak yang membantu dalam menyelesaikan konflik ini. Keterlibatan pihak ketiga yang paling baik dan efektif adalah apabila kehadirannya terjadi karena memang diperlukan dan berhasil membantu para pemimpin setiap pihak yang terlibat konflik untuk menemukan sendiri cara penyelesaiannya serta berhasil membangun hubungan kerjasama satu sama lain, sehingga pada akhirnya jasanya tidak diperlukan atau diinginkan lagi. Tidak ada strategi pendekatan keterlibatan pihak ketiga yang paling baik dalam resolusi konflik, karena fungsi keberadaannya hanyalah merupakan kompensasi bagi adanya kekurangan yang ada dalam perselisihan atau konflik itu. Karenanya, pihak ketiga harus berupaya menyediakan “obat” sebanyak jumlah “penyakit” yang ada, “obat” yang akan menyembuhkan masyarakat atau kelompok dari “penyakit” konflik negatif.[2]

Henry Dunant Center (HDC) merupakan salah satu contoh dari pihak ketiga (Hubungan Triad) dalam konflik antara RI dan GAM. Namun dapat dikatakan bahwa HDC adalah contoh dari pihak ketiga yang mengalami kegagalan dalam mengadakan resolusi damai. HDC tidak pernah memberikan hasil yang nyata dalam usaha perdamaian antara RI dan GAM. Bahkan ada indikasi bahwa kehadiran HDC hanya menguntungkan dari pihak negaranya berasal yaitu swiss. Karena setiap terjadi perundingan, perundingan serta penandatanganan perundingan tersebut harus dilakukan di Swiss.

Walaupun HDC tidak dapat menghasilkan hasil perundingan yang berujuang pada meredanya konflik, HDC tetap merupakan awal dari keberhasilan dalam penentuan damai dalam kedua belah pihak yang berkonflik. Dalam teori simmel hal ini disebut sebagai dyad in triad, karena interaksi dari pihak ketiga tidak begitu kuat sehingga hubungan dyad lebih mendominasi dalam hubungan ini. Interaksi dari HDC tidak begitu kuat dibandingkan dengan interaksi konflik antara RI dan GAM.

Dyad in Triad

Dyad in Triad

Setelah kegagalan dari HDC, pihak mediasi lain yang mencoba untuk meredakan konflik antara RI dan GAM adalah Crisis Management Initiatives (CMI). CMI mulai memprakarsai perundingan damai di Aceh pada Januari 2005. Berbagai pertemuan dan dialog informal telah berhasil membahas dan mempertemukan isu yang paling sensitif diantara RI-GAM. GAM bersedia menarik tuntutan merdeka dan menerima otonomi khusus. Seiring dengan hal tersebut, kondisi di Aceh sendiri tingkat keamanannya mulai membaik dan pemerintah merubah status darurat sipil menjadi tertib sipil. Puncaknya, pada tanggal 15 Agustus 2005, disepakati nota kesepahaman perdamaian antara RI dan GAM di Helsinki.[2]

Hubungan Triad

Hubungan Triad


[1] Hugh Miall et.al., Resolusi Damai Konflik Kontemporer, terjemahan Tri Budhi Satrio, Jakarta, Raja

Grafindo Persada, 2000, hlm. 48.

[2] Iskandar Zulkarnaen, Peran Pihak Ketiga Dalam Penyelesaian Konflik Di Aceh; Analisa Kegagalan Hdc Serta Prospek Damai Mou Helsinki